Keadilanrakyatnews.com, Jakarta – Google membuka SynthID Detector untuk masyarakat umum sejak 7 Oktober 2026. Layanan berbasis situs web ini bisa dipakai untuk memeriksa gambar, video, dan audio, guna mengetahui apakah media tersebut membawa watermark digital SynthID yang disisipkan sejumlah teknologi kecerdasan buatan (AI).
Pada tahap pengujian, alat ini hanya bisa dipakai terbatas oleh jurnalis, peneliti, dan profesional media. Kini aksesnya diperluas ke seluruh dunia, termasuk bagi pengguna di Indonesia, dengan antarmuka berbahasa Inggris.
Google menjelaskan perluasan akses ini melalui blog resminya. Meski begitu, SynthID Detector bukan alat pendeteksi universal. Hasilnya tidak bisa menjadi satu-satunya dasar untuk menyimpulkan sebuah media dibuat dengan AI atau tidak.
Cara Menggunakan SynthID Detector
Pemakaiannya relatif sederhana. Pengguna cukup membuka situs resminya, masuk dengan akun yang didukung, lalu mengunggah media yang ingin diperiksa. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
- Buka situs resmi. Kunjungi synthid.com/image-detection.
- Masuk ke akun. Berdasarkan informasi peluncuran, layanan ini mendukung akun Google, OpenAI, atau Apple.
- Unggah file. Pilih foto, video, atau audio sesuai format yang didukung.
- Tunggu analisis. Sistem akan memeriksa apakah file memuat watermark SynthID yang dapat dikenali.
- Baca hasilnya. Pahami keterangan yang muncul sebelum menarik kesimpulan tentang asal-usul media.
Pengguna disarankan mengakses layanan lewat alamat resmi dan membaca ketentuannya sebelum mengunggah berkas. Bila media memuat data pribadi atau materi sensitif, pertimbangkan dulu aspek privasinya sebelum mengirimkannya ke layanan daring.

Format File yang Didukung
SynthID Detector menerima berbagai format yang umum dipakai, sehingga pengguna tidak perlu mengubah format berkas lebih dulu. Untuk gambar, format yang didukung adalah:
- JPG dan JPEG
- PNG dan BMP
- WEBP dan AVIF
- HEIC dan HEIF
- TIFF dan TIF
- GIF
Untuk video, format yang bisa diperiksa adalah MP4, MOV, dan WEBM. Adapun untuk audio, pengguna dapat mengunggah file WAV, MP3, OGG, FLAC, AAC, atau M4A.
Dukungan format tidak berarti setiap file pasti terdeteksi sebagai konten AI. Sistem tetap harus menemukan watermark yang didukungnya.
Apa Itu SynthID?
SynthID adalah teknologi watermark digital yang diperkenalkan Google pada 2023. Teknologi ini menyisipkan penanda yang tidak kasatmata ke dalam konten buatan AI. Penanda itu tidak tampil sebagai tulisan atau logo pada gambar, video, maupun audio, tetapi bisa dikenali oleh sistem pemeriksa.
Ini berbeda dari watermark biasa berupa teks atau gambar yang ditempel di atas foto. Sistem pendeteksi memeriksa ada tidaknya penanda tersebut untuk membantu mengenali keterlibatan teknologi AI yang kompatibel.
Google menyatakan SynthID telah dipakai untuk memberi watermark pada lebih dari 180 miliar gambar dan video, serta konten audio dengan durasi kumulatif sekitar 240.000 tahun. Angka itu menunjukkan skala pemakaian teknologi tersebut.
Dengan membuka SynthID Detector untuk umum, Google menyediakan portal khusus agar masyarakat tidak hanya mengandalkan pemeriksaan manual.
Tidak Hanya untuk Konten Buatan Google
Pada tahap perluasan ini, SynthID Detector tidak terbatas pada konten dari teknologi AI Google. Layanan ini juga mendukung watermark dari sejumlah mitra, termasuk OpenAI, NVIDIA, dan Kakao. Google menyebut dukungan untuk Apple direncanakan menyusul.
Teknologi AI Google yang memakai SynthID mencakup berbagai layanan dan model untuk menghasilkan gambar, video, dan audio. Namun, kemampuan pemeriksaan tetap bergantung pada penggunaan watermark yang kompatibel oleh sistem pembuat konten.
Dengan kata lain, alat ini tidak bisa dianggap mampu mengenali semua gambar atau video buatan AI dari berbagai perusahaan. Konten yang dibuat dengan model yang tidak mendukung SynthID bisa saja tidak menghasilkan temuan, meski sebenarnya dibuat atau diedit dengan AI.
Mengapa Hasil Pemeriksaan Tidak Boleh Dijadikan Satu-satunya Bukti?
SynthID Detector berfokus mencari watermark SynthID. Alat ini tidak menilai asal-usul konten berdasarkan tampilan visual atau karakteristik suaranya.
Jika watermark yang didukung ditemukan, hasilnya bisa menjadi petunjuk bahwa teknologi AI yang kompatibel terlibat dalam pembuatan atau pengolahan media. Namun, hasil positif tidak selalu menjelaskan bagian mana yang dibuat AI, kapan media dibuat, atau seberapa besar pengaruh AI terhadap hasil akhirnya.
Sebaliknya, bila watermark tidak ditemukan, pengguna tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa konten itu asli. Bisa jadi media dibuat dengan model yang tidak mendukung SynthID, berasal dari penyedia yang belum menjadi mitra, atau sudah tidak memiliki watermark yang bisa dikenali sistem.
Karena itu, pemeriksaan SynthID sebaiknya dipadukan dengan langkah verifikasi lain, seperti:
- menelusuri sumber pertama;
- memeriksa konteks publikasi;
- membandingkan dengan sumber tepercaya;
- mencari konfirmasi dari pihak terkait.
Pendekatan ini penting terutama ketika media dipakai sebagai bukti dalam pemberitaan atau untuk mendukung klaim yang berpotensi merugikan orang lain.
Verifikasi SynthID Juga Ada di Produk Google Lain
Selain lewat situs khusus, Google telah mengintegrasikan pemeriksaan SynthID ke sejumlah produknya, termasuk aplikasi Gemini, Google Search, dan browser Chrome. Menurut Google, fitur verifikasi di produk-produk itu menangani lebih dari satu juta permintaan pemeriksaan setiap hari.
Perluasan akses SynthID Detector menjadi langkah tambahan untuk membantu masyarakat mengetahui asal-usul media digital. Di tengah konten buatan AI yang kian realistis, teknologi watermark dapat membantu proses pemeriksaan, tetapi tetap memiliki batasan.
Google Buka SynthID Detector
Dengan dibukanya SynthID Detector, pengguna di Indonesia dan negara lain kini dapat memeriksa gambar, video, dan audio yang diduga dibuat atau diedit dengan AI dari sistem yang mendukung SynthID. Layanan ini tersedia lewat situs resmi dan mendukung banyak format media.
Alat ini berguna untuk verifikasi awal, tetapi bukan pendeteksi universal. Adanya watermark bisa menjadi petunjuk keterlibatan AI yang kompatibel, sedangkan hasil tanpa watermark tidak menjamin media tersebut sepenuhnya asli. Pengguna tetap perlu menggabungkannya dengan verifikasi sumber dan konteks sebelum memercayai atau menyebarkan suatu konten.
FAQ Seputar SynthID Detector
Apa itu SynthID Detector?
SynthID Detector adalah layanan berbasis situs web dari Google untuk memeriksa apakah gambar, video, atau audio memuat watermark digital SynthID.
Kapan SynthID Detector dibuka untuk umum?
Google membukanya untuk masyarakat umum pada 7 Oktober 2026. Sebelumnya, alat ini hanya dipakai terbatas oleh jurnalis, peneliti, dan profesional media.
Apakah SynthID Detector bisa dipakai di Indonesia?
Bisa. Aksesnya diperluas secara global, termasuk untuk pengguna di Indonesia, dengan antarmuka berbahasa Inggris.
Di mana alamat situs SynthID Detector?
Layanan ini dapat diakses di synthid.com/image-detection.
Akun apa yang bisa dipakai untuk masuk?
Berdasarkan informasi peluncuran, layanan mendukung akun Google, OpenAI, atau Apple.
Apakah SynthID Detector hanya mendeteksi konten buatan AI Google?
Tidak. Layanan ini juga mendukung watermark dari mitra seperti OpenAI, NVIDIA, dan Kakao. Dukungan untuk Apple direncanakan menyusul.
Format file apa saja yang didukung?
Untuk gambar, antara lain JPG, JPEG, PNG, BMP, WEBP, AVIF, HEIC, HEIF, TIFF, TIF, dan GIF. Untuk video, MP4, MOV, dan WEBM. Untuk audio, WAV, MP3, OGG, FLAC, AAC, dan M4A.
Apakah media tanpa watermark SynthID pasti asli?
Tidak. Hasil tanpa watermark hanya berarti watermark SynthID tidak ditemukan. Media itu masih mungkin dibuat atau diedit dengan teknologi AI yang tidak mendukung SynthID.
Selain situs khusus, di mana lagi pemeriksaan SynthID tersedia?
Pemeriksaan SynthID juga terintegrasi di aplikasi Gemini, Google Search, dan browser Chrome. (*)