Keadilanrakyatnews.com, Jakarta – Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen pada 2026. Proyeksi tersebut tertuang dalam laporan OECD Economic Outlook, Interim Report September 2026 yang dirilis pada 23 September 2026.
Menurut OECD, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun tersebut didukung oleh perbaikan neraca perdagangan yang kemudian mendorong pertumbuhan investasi lebih lanjut. Namun, laju pertumbuhan diperkirakan sedikit melandai menjadi 5,1 persen pada 2027.
Di sisi inflasi, OECD memperkirakan tingkat inflasi Indonesia mencapai 3,3 persen hingga akhir 2026, sebelum turun menjadi 3 persen pada 2027. Angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran inflasi Bank Indonesia.
Laporan ini memberikan gambaran terkini mengenai prospek ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang masih diwarnai ketidakpastian. Berikut rincian proyeksi OECD beserta faktor pendukung dan risikonya.

Faktor Pendorong Pertumbuhan Indonesia
OECD menilai pertumbuhan di sejumlah negara berkembang G20, termasuk Indonesia, India, dan Brasil, ditopang oleh permintaan domestik yang relatif tinggi. Kebijakan pemerintah yang melindungi rumah tangga dan perusahaan dari dampak kenaikan harga energi juga berperan penting.
“Langkah-langkah dukungan harga pemerintah mengurangi tekanan harga energi dan akan terus berlanjut dalam jangka pendek,” sebut laporan OECD yang dikutip Senin (28/9/2026).
Perbaikan neraca perdagangan menjadi salah satu penopang utama. Ketika ekspor menguat dan impor relatif terkendali, surplus perdagangan dapat meningkatkan devisa serta mendorong investasi di sektor-sektor produktif. Kondisi ini diharapkan menciptakan efek berantai terhadap konsumsi dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Selain itu, ketahanan sektor swasta yang masih terjaga memberikan ruang bagi ekspansi usaha. OECD mencatat bahwa pertumbuhan jangka pendek di sejumlah ekonomi, termasuk negara berkembang, lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.
Proyeksi Ekonomi Global
Secara global, OECD memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) dunia tumbuh 2,9 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 3 persen pada 2027. Proyeksi ini sejalan dengan skenario gangguan yang berlangsung terbatas sebagaimana dijelaskan dalam laporan OECD sebelumnya pada Juni 2026.
Sektor swasta dinilai masih menunjukkan ketahanan. Namun, guncangan harga komoditas berlangsung lebih lama dibandingkan perkiraan awal. Pertumbuhan global diperkirakan menghadapi hambatan hingga akhir 2026 dan awal 2027 karena daya beli rumah tangga tergerus dan suku bunga kebijakan yang meningkat di banyak negara.
Meski demikian, penyelesaian konflik di sejumlah kawasan disebut dapat mendorong pemulihan ekonomi secara bertahap. Mayoritas negara G20 masih akan mendapatkan dukungan pertumbuhan dari belanja dan produksi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI). Dalam sejumlah kasus, investasi terkait AI bahkan melampaui investasi konvensional yang relatif lemah.
Risiko dari Konflik Timur Tengah dan Harga Energi
OECD menilai konflik di Timur Tengah masih menjadi salah satu tantangan utama bagi perekonomian global. Gangguan terhadap jalur perdagangan dan ekspor energi, termasuk sulitnya akses Selat Hormuz serta gangguan pada jalur ekspor alternatif seperti Selat Bab al-Mandeb, berpotensi mendorong kenaikan harga energi.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan kelangkaan komoditas utama, terutama bagi negara yang bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan energinya. Indonesia, sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, perlu mencermati perkembangan ini karena dapat memengaruhi neraca perdagangan dan tekanan inflasi.
Kenaikan harga energi yang berkepanjangan berpotensi menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan biaya produksi bagi pelaku usaha. Oleh karena itu, kebijakan perlindungan harga yang telah diterapkan pemerintah menjadi salah satu faktor penahan dampak negatif dalam jangka pendek.
Ancaman El Niño dan Cuaca Ekstrem
Selain konflik geopolitik, perekonomian global menghadapi risiko dari peristiwa cuaca ekstrem. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memperkirakan peluang 95 persen terjadinya El Niño yang sangat kuat pada periode Oktober-Desember 2026.
Fenomena tersebut berpotensi menyebabkan kondisi lebih kering di Australia, melemahkan musim hujan di India, serta memicu kekeringan di Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara. Dampaknya dapat menekan produksi pertanian dan mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.
Gangguan pasokan pupuk dari negara-negara Teluk juga berpotensi mengurangi hasil panen apabila produksi gas tetap terbatas dalam jangka panjang. Bagi Indonesia, sektor pertanian merupakan salah satu penopang penting bagi ketahanan pangan dan pendapatan masyarakat pedesaan. Oleh sebab itu, mitigasi dampak El Niño menjadi perhatian tersendiri dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan.
Dampak Ganda Kecerdasan Buatan
Di tengah berbagai risiko, perkembangan kecerdasan buatan (AI) memberikan dampak positif sekaligus tantangan bagi perekonomian global. Investasi dan produksi teknologi yang berkaitan dengan AI dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek serta membantu proses produksi di berbagai sektor.
Namun, OECD mengingatkan bahwa hasil investasi AI dapat tidak sesuai dengan harapan atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan manfaat, terutama apabila terjadi hambatan dalam penyediaan peralatan. Ketergantungan perusahaan AI terhadap utang, pembiayaan yang kompleks, dan meningkatnya risiko kredit juga dapat memperbesar dampak negatif apabila investor kehilangan kepercayaan.
Jika pertumbuhan pendapatan terus melemah, investasi di sektor AI berpotensi melambat secara signifikan. Dampaknya dapat merambat ke industri lain, termasuk teknik dan konstruksi, serta menekan valuasi perusahaan di pasar keuangan.
Bagi Indonesia, peluang dari pengembangan AI terletak pada peningkatan produktivitas dan efisiensi di sektor manufaktur, jasa, serta pemerintahan. Namun, kesiapan infrastruktur digital, sumber daya manusia, dan ekosistem inovasi menjadi faktor penentu agar manfaat AI dapat dirasakan secara lebih merata.
Implikasi bagi Perekonomian Indonesia
Proyeksi pertumbuhan 5,2 persen pada 2026 menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih berada di jalur ekspansi yang relatif stabil dibandingkan banyak negara lain. Perbaikan neraca perdagangan dan ketahanan permintaan domestik menjadi modal penting.
Meski demikian, risiko eksternal seperti kenaikan harga energi, dampak El Niño terhadap pertanian, serta ketidakpastian geopolitik perlu terus diwaspadai. Koordinasi kebijakan antara pemerintah, bank sentral, dan otoritas terkait menjadi kunci untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Dengan inflasi yang diperkirakan tetap terkendali di kisaran 3–3,3 persen, ruang bagi kebijakan moneter dan fiskal masih tersedia untuk mendukung pertumbuhan. Fokus pada investasi produktif, penguatan ekspor, serta mitigasi risiko cuaca ekstrem akan menentukan apakah proyeksi OECD dapat tercapai atau bahkan dilampaui.
Laporan OECD Economic Outlook Interim Report September 2026 ini menjadi salah satu rujukan penting bagi pelaku usaha, investor, dan pembuat kebijakan dalam menyusun strategi ke depan di tengah kondisi global yang masih penuh tantangan. (*)