Bila memakai kurs sekitar Rp17.800 per dollar AS seperti yang dipakai dalam laporan sumber, angka itu setara kira-kira Rp17,8 miliar. Nilai rupiah ini bisa berbeda di setiap pemberitaan karena bergantung pada kurs yang dipakai saat konversi. Karena itu, yang paling stabil untuk dirujuk adalah angka dolarnya, yakni 1 juta dollar AS.
Perlu ditegaskan, The Straits Times menyusun laporannya berdasarkan dokumen dan informasi yang diperoleh menjelang turnamen. Artinya, angka tersebut belum bisa disebut sebagai nominal resmi yang pasti diterima Timnas Indonesia.
Rincian hadiah lainnya yang dilaporkan
Laporan yang sama menyebut hadiah untuk juara divisi kedua, FIFA ASEAN Challenge Cup, sebesar 300.000 dollar AS. Dengan kurs yang sama, angka itu kira-kira Rp5,3 miliar. Hitungan rupiah ini adalah perkiraan kasar dari kurs tersebut.
Selain hadiah juara, setiap tim disebut mendapat jaminan uang partisipasi sebesar 125.000 dollar AS, atau sekitar Rp2,2 miliar dengan kurs yang sama. Di atas itu, ada bonus yang besarnya bergantung pada hasil pertandingan. Skema ini membuat tim yang tidak juara pun tetap membawa pulang pemasukan dari keikutsertaan mereka.
| Komponen | Nilai yang dilaporkan | Perkiraan rupiah* |
|---|---|---|
| Hadiah juara divisi utama (FIFA ASEAN Cup) | USD 1 juta | sekitar Rp17,8 miliar |
| Hadiah juara divisi kedua (FIFA ASEAN Challenge Cup) | USD 300.000 | sekitar Rp5,3 miliar |
| Uang partisipasi tiap tim | USD 125.000 (plus bonus hasil pertandingan) | sekitar Rp2,2 miliar |
*Perkiraan memakai kurs sekitar Rp17.800 per dollar AS. Angka bisa berbeda tergantung kurs.
Jauh lebih besar dari hadiah ASEAN Championship 2024
Jika angka 1 juta dollar AS itu nantinya benar-benar menjadi hadiah juara, nilainya jauh melampaui hadiah turnamen regional sebelumnya. The Straits Times membandingkannya dengan hadiah 300.000 dollar AS yang diberikan Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF) kepada Vietnam setelah menjuarai ASEAN Championship 2024.
Dengan perbandingan tersebut, hadiah FIFA ASEAN Cup lebih dari tiga kali lipat. Selisih ini menggambarkan bahwa turnamen perdana yang digagas FIFA diposisikan sebagai kompetisi dengan skala berbeda dibanding turnamen regional yang sudah ada.

