OpenAI Sisipkan Watermark Tersembunyi di Teks ChatGPT dan Codex

Ari
By Ari
4 Menit Baca

Keadilanrakyatnews.com – OpenAI akan menyisipkan tanda air (watermark) tersembunyi pada teks buatan ChatGPT dan tools pemrograman Codex bagi pengguna di negara-negara Uni Eropa. Langkah ini diambil agar perusahaan mematuhi aturan kecerdasan buatan (AI) Uni Eropa, EU AI Act, yang mewajibkan konten buatan AI bisa dikenali.

Rencana tersebut diumumkan OpenAI melalui blog resminya pada Senin (5/10/2026). Untuk saat ini, penerapannya baru mencakup Uni Eropa dan belum berlaku bagi pengguna ChatGPT di Indonesia.

Mengapa OpenAI Memasang Watermark pada Teks ChatGPT?

Menurut OpenAI, watermark dipasang untuk memenuhi ketentuan transparansi dalam EU AI Act. Aturan itu mulai efektif sejak 2 Agustus 2026 dan mewajibkan perusahaan AI menandai konten buatan AI dengan cara yang dapat dikenali oleh sistem lain.

ChatGPT dan Codex sudah dirilis sebelum aturan tersebut berlaku. Karena itu, keduanya diberi tenggat hingga 2 Desember 2026 untuk menyesuaikan diri.

OpenAI Sisipkan Watermark Tersembunyi di Teks ChatGPT dan Codex

Kapan Watermark Mulai Diterapkan?

OpenAI akan menggulirkan watermark secara bertahap dalam beberapa minggu ke depan. Fitur ini ditujukan kepada pengguna ChatGPT dan Codex yang memenuhi syarat di semua paket langganan.

Pengguna di Indonesia belum termasuk dalam cakupan penerapan awal ini.

Cara Kerja textGrain, Metode Penandaan OpenAI

OpenAI menamai metode penandaannya textGrain. Perusahaan juga berencana merilis teknologi tersebut sebagai software open source. Menurut klaim OpenAI, watermark ini tidak menurunkan performa model secara berarti.

Cara kerjanya bukan dengan menambahkan sesuatu yang tampak pada teks. Tidak ada logo, simbol, maupun karakter tersembunyi yang disisipkan. Sebaliknya, textGrain memengaruhi pilihan kata yang dipakai model ketika menyusun jawaban.

Pola pilihan kata itu tidak terlihat oleh pembaca. Meski demikian, alat pendeteksi khusus dapat menangkapnya.

Apa yang Tidak Diungkap oleh Watermark?

OpenAI menegaskan bahwa watermark memiliki batasan. Berikut hal-hal yang menurut perusahaan tidak diungkap atau dibuktikan oleh tanda tersebut:

  • identitas pembuat teks;
  • akun yang digunakan;
  • perintah (prompt) yang diketik pengguna;
  • isi percakapan;
  • besarnya kontribusi manusia dalam teks;
  • kepemilikan maupun kebenaran isi teks.

Watermark Bisa Hilang Jika Teks Diedit

Dalam uji internal OpenAI, tingkat deteksi watermark turun tajam ketika sebagian kata diganti dengan sinonimnya. Panjang teks dalam pengujian itu dihitung dengan token, yaitu satuan potongan kata yang diolah model AI.

“Dalam evaluasi atas potongan teks sepanjang 400 token, mengganti 10 persen kata dengan sinonim menurunkan tingkat deteksi dari sekitar 92 persen menjadi 66 persen,” tulis OpenAI.

Penurunan makin besar saat lebih banyak kata diganti. Ketika 25 persen kata diubah, tingkat deteksi merosot dari sekitar 92 persen menjadi 17 persen.

OpenAI Akui Detektor Bisa Keliru

OpenAI juga mengakui bahwa detektornya tidak sempurna. Menurut perusahaan, teks buatan AI bisa lolos dari deteksi, sementara tulisan manusia bisa salah ditandai sebagai buatan AI. Kekeliruan itu lebih mungkin terjadi pada teks pendek, teks hasil terjemahan, dan jawaban matematika yang pilihan katanya terbatas.

“Tidak terdeteksinya watermark tidak membuktikan bahwa teks itu ditulis manusia,” tulis OpenAI, sebagaimana dikutip dari BleepingComputer.

Untuk sementara, akses ke detektor hanya dibuka bagi peneliti dan organisasi ahli yang lolos proses pendaftaran dan disetujui oleh OpenAI.

Anthropic dan Google Lebih Dulu Menerapkan Watermark

OpenAI bukan perusahaan pertama yang menandai teks buatan AI. Anthropic lebih dulu mengumumkan watermark untuk teks buatan chatbot Claude pada Agustus 2026. Berbeda dengan ChatGPT yang untuk sementara baru berlaku di Uni Eropa, watermark Claude diterapkan Anthropic di seluruh dunia.

Sementara itu, Google DeepMind sudah merilis teknologi watermark teks bernama SynthID Text secara open source sejak Oktober 2024.

Anthropic, Google, Meta, Microsoft, dan OpenAI juga sudah berkomitmen mengikuti code of practice Uni Eropa mengenai konten buatan AI, bersama sejumlah perusahaan lain. (*)

TAGGED:
Bagikan Artikel ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with