Indonesia Pangkas Ekspor Gas ke Singapura, Apa Dampaknya bagi Kedua Negara?

Ari
By Ari
10 Menit Baca

Singapura sangat bergantung pada gas alam. Sekitar 95 persen listrik di negara itu dihasilkan dari gas, dan pasokannya datang lewat pipa dari Indonesia dan Malaysia serta impor LNG dari berbagai pemasok. Beberapa dampak yang dicermati:

  • Pasokan jangka pendek aman. Pengurangan kurang dari 2 persen kebutuhan harian dan dapat ditutup lewat LNG serta cadangan, menurut EMA.
  • Biaya relatif terbatas. Seorang pejabat yang dikutip Liputan6 menyebut pengurangan hanya mewakili porsi kecil kebutuhan listrik harian sehingga dampak biaya tidak substansial.
  • Diversifikasi dipercepat. Wong menyatakan infrastruktur terminal LNG memberi Singapura lebih banyak pilihan menghadapi gangguan pasokan.
  • Opsi nuklir dikaji. Wong menyebut Singapura perlu mempertimbangkan sumber energi bersih yang andal, termasuk nuklir. Singapura dijadwalkan menjalani evaluasi Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) pada 2027 yang mencakup 19 bidang. Evaluasi ini belum berarti keputusan membangun pembangkit nuklir.
  • Risiko kontrak. Pengurangan dapat memicu langkah komersial jika terbukti melanggar perjanjian.

Dampak bagi Indonesia

Bagi Indonesia, kebijakan ini membawa keuntungan sekaligus risiko.

  • Pasokan listrik domestik. Gas dialihkan untuk pembangkit di Batam, Bintan, dan Sumatra, sehingga keandalan listrik di wilayah tersebut diharapkan lebih terjaga.
  • Dukungan hilirisasi. Pemerintah menekankan pemanfaatan gas untuk kebutuhan industri dalam negeri, termasuk petrokimia.
  • Potensi penerimaan berkurang. Bahlil menyatakan pemerintah telah memperhitungkan berbagai konsekuensi, termasuk berkurangnya pendapatan dari ekspor jika pengiriman ke luar negeri dihentikan. Sebuah analisis menyebut kontraktor kerja sama kehilangan sebagian porsi ekspor yang dihargai lebih tinggi, sehingga selisih harga harus diserap negara atau dialihkan ke harga domestik yang lebih rendah. Dalam jangka menengah, hal itu dapat memengaruhi ekonomi proyek dan keputusan investasi hulu.
  • Risiko hukum dan reputasi. Pemangkasan di tengah kontrak yang masih berjalan membuka kemungkinan sengketa komersial. Media Kompas juga menyoroti bahwa menyetop ekspor bisa menghemat anggaran tetapi berisiko melanggar kontrak.
  • Hubungan bilateral. Eskalasi di luar ranah teknis dapat memengaruhi negosiasi kontrak energi Indonesia dengan pembeli lain di kawasan.
  • Permintaan jangka panjang. Jika Singapura menaikkan impor LNG secara permanen, permintaan gas pipa Indonesia berpotensi tidak kembali ke level sebelumnya.
Bagikan Artikel ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with